Sabtu, 22 September 2012

Askep Infeksi Saluran Kemih (ISK)


LAPORAN PENDAHULUAN
DAN
ASUHAN KEPERAWATAN
KLIEN DENGAN INFEKSI SALURAN KEMIH
(ISK)





Dosen Pembimbing
Retno Ardanari A, S.Kep.Ns

Penyusun :
Haslin (2011.03.028)
Kiki Wahyu (2011.035)
Melinda Selvia (2011.03.040)
Nolly Vianelda Snae (2011.03.048)
Venni Novita Sari (2011.03.064)





PRODI D III KEPERAWATAN
STIKES KARYA HUSADA KEDIRI
TAHUN AJARAN 2012/2013


KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah kami persembahkan kepada Allah SWT karena atas limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan Klien dengan Infeksi Saluran Kemih” untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada :
Ibu Retno Ardanari A, S.Kep.Ns selaku dosen pembimbing, serta pada teman teman yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.
kami menyusun makalah ini untuk memenuhi tugas materi. Dan kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak dapat kesalahan dan kekurangan. Maka dari itu, kami mengaharapkan kritik dan saran dari pembaca demi sempurnanya makalah ini.
Akhirnya, semoga makalah ini bermanfaat bagi para generasi muda pada umumnya dan untuk perawat program pendidikan khususnya.





                                                                        Pare, 17 September 2012


                                                                        Penyusun






LAPORAN PENDAHULUAN (L.P)
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN
ISK (INFEKSI SALURAN KEMIH)

 

 I.      DEFINISI
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah istilah umum yang dipakai untuk menyatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih.
1.      Infeksi saluran kemih dapat mengenai baik laki-laki maupun perempuan dari semua umur baik pada anak, remaja, dewasa maupun pada umur lanjut.
2.      Akan tetapi dari kedua jenis kelamin, ternyata wanita lebih sering dari pria dengan angka populasi umum, kurang dari 515%, untuk menyatakan adanya ASK harus ditemukan bakteri didalam urin. Bakteriuria bermakna yang disertai gejala pada saluran kemih disebut bakteriunia bergejala sedangkan yang tanpa gejala kemih disebut bakteriunia tanpa gejala. Mikro organisme yang paling sering menyebabkan ISK adalah jenis bakteri aerob. Saluran kemih normal tidak dihuni oleh bakteri atau mikroba yang lain, karena itu rutin dalam ginjal dan buli-buli biasanya steril. Walaupun demikian uretra bagian bawah terutama pada bagian yang mendekati kandung kemih.
                 Selain bakteri aerob, ISK dapat disebabkan oleh virus, nagi, dan jamur. Ada kalanya ISK tanpa bakteriuria, ditemukan pada keadaaan-keadaan :
1.   Fokus infeksi tidak dilewati urin, misalnya pada lesi dini pielonefritis karena infeksi hematogen.
2.   Bendungan total pada bagian yang menderita infeksi.
3.   Bakteriuria disamakan karena pemberian antibiotika.

II.      ETIOLOGI
Organisme penyebab ISK yang paling sering ditemukan adalah escheriucia (80 % kasus). E. Coli merupakan penghuni normal dari kolon. Organisme-organisme lain yang juga dapat  menyebabkan ISK adalah : golongan proteus, klebsiela, pseudomonas, enterokokus dan stophylokokus.

III.      PATOFISIOLOGI
 
Rantai Infeksi
 
pencegahan rantai infeksi
 
IV. TANDA DAN GEJALA
Tanda dan gejala ISK pada bagian bawah (sistitis):
- Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih
- Spasame pada area kandung kemih dan suprapubis
- Hematuria
- Nyeri punggung dapat terjadi
Tanda dan gejala ISK bagian atas (pielonefritis)
- Demam
- Menggigil
- Nyeri panggul dan pinggang
- Nyeri ketika berkemih
- Malaise
- Pusing
- Mual dan muntah

V. MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinis ISK tidak khas dan bahkan pada sebagian pasien tanpa gejala. Gejala yang sering ditemukan ialah disuria, polakisuria dan terdesak kencing yang biasanya terjadi bersamaan. Nyeri supra pubik dan daerah pelvis. Polakisuria terjadi akibat kandung kemih tidak dapat menampung urin lebih dari 500 ml karena mukosa yang meradang sehingga sering kencing. Stranguria yaitu kencing yang susah dan disertai kejang otot pinggang yang sering ditemukan pada sistitis akut. Tenesmus ialah rasa nyeri dengan keinginan mengosongkan kandung kemih meskipun telah kosong. Nukturia ialah cendrung sering kencing pada malam hari akibat kapasitas kandung kemih menurun, sering juga ditemukan enuresis noktural sekunder yaitu ngompol pada orang dewasa, prostatismus yaitu kesulitan memulai kencing dan kurang deras arus kencing, nyeri uretra, kolik ureter dan ginjal.
Gejala klinis ISK sesuai dengan bagian saluran kemih yang terinfeksi sebagai berikut :
1.      Pada bagian bawah, keluhan pasien biasanya berupa rasa sakit atau rasa panas di uretra sewaktu kencing dengan air kemih sedikit-sedikit serta rasa tidak enak didaerah suprapubik.
2.      Pada ISK bagian atas dapat ditemukan sakit kepala, malaise mual, muntah, demam, menggigil, rasa tidak enak, atau nyeri dipinggang.

VI. KOMPLIKASI
-          Gagal ginjal akut
-          Ensefalopati hipertensif
-          Gagal jantung, edema paru, retinopati hipertensif

VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a.       Biakan urin : Biakan ini pancaran tengah (mid stream urine) dianggap positif ISK bila jumlah kuman ³ 100.000 kuman/ml urin, jumlah kuman antara 10.000 - < 100.000 kuman/ml urin dianggap meragukan akan perlu diulang. Bila < 10.000 kuman/ml, urin hasil dianggap sebagai kontaminasi. Bila pengambilan urin dilakukan dengan pungsi supra pubik/karteterisasi kandung kemih, maka seberapapun kuman yang ditemukan dianggap positif ISK (ada maka juga yang menyebutkan batasan > 200 kuman/ml urin).
b.      Urin lengkap : tidak ada korelasi pasti antara piuria dan bakteri urin, tetapi pada setiap kasus dengan piuria harus dicurigai kemungkinan ISK, bila ditemukan silinder leukosit, kemungkinan pielonefritis perlu dipikirkan.
c.       Radiologi : Pemeriksaan ultrasonografi sedapat mungkin dilakukan pada semua pasien ISK, pielografi intravena (PIV) dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya pielonefritis kronis, kelainan konginital, maupun abstruksi dengan miksio-sisto-uretrografi (MSU) dapat ditemukan tanda-tanda refluks vesiko ureter/penyempitan pada muara uretra.
d.      Lain-lain : data tambahan berupa peninggian laju endap darah (LED) dan kadar protein kurang rektif, penurunan fungsi ginjal, serta adanya azotemia memberi petunjuk adanya ISK bagian atas.

VIII. PENATALAKSANAAN
Tatalaksana umum : atasi demam, muntah, dehidrasi dan lain-lain. Pasien dilanjutkan banyak minum dan jangan membiasakan menahan kencing untuk mengatasi disuria dapat diberikan fenazopiridin (pyriduin) 7-10 mg/kg BB hari. Faktor predisposisi dicari dan dihilangkan. Tatalaksana khusus ditujukan terhadap 3 hal, yaitu pengobatan infeksi akut, pengobatan dan pencegahan infeksi berulang serta deteksi dan koreksi bedah terhadap kelamin anatamis saluran kemih.
1.      Pengobatan infeksi akut : pada keadaan berat/demam tinggi dan keadaan umum lemah segera berikan antibiotik tanpa menunggu hasil biakan urin dan uji resistensi kuman. Obat pilihan pertama adalah ampisilin, katrimoksazol, sulfisoksazol asam nalidiksat, nitrofurantoin dan sefaleksin. Sebagai pilihan kedua adalah aminoshikosida (gentamisin, amikasin, dan lain-lain), sefatoksin, karbenisilin, doksisiklin dan lain-lain, Tx diberikan selama 7 hari.
2.      Pengobatan dan penegahan infeksi berulang : 30-50% akan mengalami infeksi berulang dan sekitar 50% diantaranya tanpa gejala. Maka, perlu dilakukan biakan ulang pada minggu pertama sesudah selesai pengobatan fase akut, kemudian 1 bulan, 3 bulan dan seterusnya setiap 3 bulan selama 2 tahun. Setiap infeksi berulang harus diobati seperti pengobatan ada fase akut. Bila relaps/infeksi terjadi lebih dari 2 kali, pengobatan dilanjutkan dengan terapi profiloksis menggunakan obat antiseptis saluran kemih yaitu nitrofurantorin, kotrimoksazol, sefaleksi atau asam mandelamin. Umumnya diberikan ¼ dosis normal, satu kali sehari pada malam hari selama 3 bulan. Bisa ISK disertai dengan kalainan anatomis, pemberian obat disesuaikan dengan hasil uji resistensi dan Tx profilaksis dilanjutkan selama 6 bulan, bila perlu sampai 2 tahun.
3.      Koreksi bedah : bila pada pemeriksaan radiologis ditemukan obstruksi, perlu dilakukan koreksi bedah. Penanganan terhadap refluks tergantung dari stadium. Refluks stadium I sampai III bisanya akan menghilang dengan pengobatan terhadap infeksi pada stadium IV dan V perlu dilakukan koreksi bedah dengan reimplantasi ureter pada kandung kemih (ureteruneosistostomi). Pada pionefrosis atau pielonefritis atsopik kronik, nefrektami kadang-kadang perlu dilakukan.



ASUHAN KEPERAWATAN

I. IDENTITAS
Nama                   :
Umur                   :
Jenis kelamin       :
Suku bangsa        :
Pekerjaan             :
Pendidikan          :
Alamat                 :
Tanggal MRS      :
Diagnosa medis   :

II. RIWAYAT KESEHATAN
a.       Keluhan utama : - Disuria
   -  Polakisria
   -  Nyeri
   -  Terdesak kencing yang berwarna terjadi bersamaan.
b.      Riwayat penyakit sekarang
Penyebab dari disuria disebabkan karena masuknya organisme eschericea coli kedalam kolon.
c.       Riwayat penyakit dahulu
Apakah sebelumnya pernah sakit ISK.
d.      Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada keluarga yang menderita penyakit yang sama.
e.       Riwayat psikososial dan spiritual
Biasanya klien cemas, bagaimana koping mekanisme yang digunakan gangguan dalam beribadat karena klien lemah.
f.             Pola-pola fungsi kesehatan
1.      Pola nutrisi dan metabolisme
Klien mengalami penurunan nafsu makan karena mual, muntah saat makan sehingga makan hanya sedikit bahkan tidak makan sama sekali.
2.      Pola eliminasi
Eliminasi alvi klien tidak dapat mengalami konstipasi oleh karena tirah baring lama. Sedangkan eliminasi urine mengalami gangguan karena ada organisme yang masuk sehingga urine tidak lancar.
3.      Pola aktifitas dan latihan
Aktivitas klien akan terganggu karena harus tirah baring total agar tidak terjadi komplikasi maka segala kebutuhan klien dibantu.
4.      Pola tidur dan istirahat
Pola tidur dan istirahat terganggu sehubungan dengan imobilisasi yang lama.
5.      Pola persepsi dan konsepsi diri
Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan penyakitnya dan ketakutan merupakan dampak psikologi klien.
6.      Pola hubungan dan peran
Hubungan dengan orang lain terganggu sehubungan dengan klien dirawat di rumah sakit dan klien harus bedrest total.
7.      Pola penanggulangan stress
Biasanya klien sering melamun dan merasa sedih karena keadaan sakitnya.
8.      Pola tata nilai dan kepercayaan
Dalam hal beribadah biasanya terganggu karena bedrest total dan tidak boleh melakukan aktivitasi karena penyakitnya.
g.      Pemeriksaan Fisik
1.      Keadaan Umum
Didapatkan klien tampak lemah, nadi 100x/menit, T = 119/60
2.      Tingkat Kesadaran
Normal GCS 4-5-6
3.      Sistem Respirasi
Pernafasan normal yaitu 20x/menit, nafsu normal
4.      Sistem Kardiovaskuler
Terjadi penurunan tekanan darah
5.      Sistem Integumen
Kulit kering, turgor kulit menurun, rambut agak kusam.
6.      Sistem Gastrantestinal
Bibir kering pecah-pecah, mukosa mulut kering, lidah kotor.
7.      Sistem Muskuloskeletal.
Klien lemah, terasa lelah tapi tidak didapatkan adanya kelainan.
8.      Sistem Abdomen
Pada palpasi didapatkan adanya nyeri tekan pada ginjal akibat adanya peradangan akut maupun kronis dari ginjal atau saluran kemih yang mengenai pelvis ginjal, pielonefritis, cystitis, uretra.

III. DIAGNOSA
1.      Nyeri berhubungan dengan koliks ginjal, pelvis, parenkim, invasi bakteri pada mukosa kandung kemih (systitis) mengakibatkan nyeri panggul atau nyeri supra pubik.
2.      Hipertermia berhubungan dengan infeksi diginjal mengakibatkan potensial infeksi dan ketidakseimbangan cairan.
3.      Perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan trauma mekanik dari infeksi mengakibatkan disuria, frekwensi dan urgency.



IV. INTERVENSI KEPERAWATAN
1.      Dx       : Nyeri berhuibungan dengan koliks ginjal, pelvis, parenkim, invasi bakteri pada mukosa kandang kemih mengakibatkan nyeri panggul atau nyeri supropubik.
Tujuan :  -  nyeri berkurang-  Penurunan kebutuhan terhadap analogetik
Kriteria Hasil : - Nyeri berkurang saat istirahat, aktifitas atau berkemih
Intervensi :
1.      Nyeri supropubik dan disuria
R/ menandakan terjadinya infeksi pada kandung kemih.
2.      Kultur urine, urinalisis RBC, WBC, peningkatan pH (infeksi kandung kemih)
R/ Jumlah bakteri ³ 100.000/ml menandakan adanya infeksi yang menyebabkan nyeri.
3.      Istirahatkan pasien selama perawatan  R/ mencegah timbulnya nyeri.
4.      Kolaboratif dengan tim kesehatan dalam pemberian analgetikR/ untuk mengontrol nyeri dan menanggulangi nyeri.
2.      Dx        : Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi ginjal mengakibatkan potensial infeksi dan ketidakseimbangan cairan.
Tujuan  : Hipertermia dapat ditanggulangi dengan tanda vital dan suhu kembali normal
Kriteria Hasil :-  Tidak terjadi demam dan dioporesis
-  Tidak ada tanda dan segala dehidrasi
Intervensi :
1.      Suhu yang meningkat secara persisten
R/ indikasi infeksi renal
2.      Kulit : suhu, warna, turgar, kering atau lembab.
R/ perubahan penandaan adanya dehidrasi
3.      Tanda vital : Peningkatan denyut nadi, pernafasan dan suhu
R/ mengtahui perubahan tanda vital
4.      Kolaboratif dalam pemberian (aspirin, aminahen)
R/ menurunkan panas dengan mengintibisi pusat pengaturan panas suhu.
5.      Kolaboratif dengan tim medis dalam pemberian antibiotik
R/ membunuh bakteri dengan mengintibisi sistesis dinding sel/mengubah metabolisme protein sel bakteri.

3.      Dx        : Perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan trauma mekanik dan infeksi mengakibatkan disuria, frekwensi dan urgency.
Tujuan :  Pola eliminasi kembali normal tanpa disertai disuria, frekwensi dan  urgency
Kriteria Hasil :-   Disuria berkurang
-   Frekwensi dan urgensi kembali normal
Intervensi :
1.      Kaji rasa panas, frekwensi, urgency, bau busuk urine, urine bercampur darah, nanah dan lendir.
R/ menandakan adanya bakteri yang mengakibatkan iritasi kandung kemih
2.      Ulangi pmx urine : peningkatan RBC, WBC, Urine cultue: bakteri ³ 100.000/ml
R/ menentukan penanganan jika hasil lab kurang dari batas normal.
3.      Kolaboratif dengan tim medis dalam pemberian antibiotik/sulfanamide (amoxicllin, sulfiscoxazole)
R/ pengobatan infeksi akan mengurangi gejala dengan menghambat sintetis bakteri
4.      Kosongkan kandung kemih setiap 4 jam, gunakan tampan/popok dan ganti setiap 3-4 jam, gunakan pakaian dalam yang terbuat dari katun, hindari celana ketat.
R/ mencegah statis urine dan media pertumbuhan bakteri : kartominasi dan iritasi genital.

V. IMPLEMENTASI
Pelaksanaan merupakan pengelolaan dan perwujudan dan rencana tindakan meliputi beberapa bagian yaitu validasi, secara keperawatan memberikan asuhan keperawatan dan pengumpulan data (Lumidar 1990)

VI. EVALUASI
Evaluasi adalah perbandingan yang matematis dari rencana tindakan dari masalah kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan kesehatan lainnya (Ependi, 1995)


DAFTAR PUSTAKA


Dengoes Marilyn E, 1993. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. EGC, Jakarta
Tessy Agus, dkk. 2001. Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 3, FKUI. Jakarta
Mansgoer A, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3 FKUI. Jakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar